PKL dan Anak-anak Jadi Korban Gas Air Mata di Sampang, Pengamat Hukum Soroti Tindakan Polres

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Gas air mata yang ditembakan tepat diatas kerumunan massa dan anggota Brimob, Selasa (28/10/2025).(fais/kabarterdepan.com)
Gas air mata yang ditembakan tepat diatas kerumunan massa dan anggota Brimob, Selasa (28/10/2025).(fais/kabarterdepan.com)

Sampang, kabarterdepan.com — Penggunaan gas air mata oleh aparat Polres Sampang saat mengurai massa aksi di depan kantor DPRD Sampang, Selasa (28/10/2025) menuai sorotan publik.

Tak hanya peserta aksi, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) dan anak-anak di sekitar lokasi juga turut menjadi korban akibat tembakan gas air mata tersebut.

Menurut pengamat sekaligus praktisi hukum Pandawa Law Firm, Andika Putra Arisma, S.H., tindakan aparat dinilai berlebihan.

Dika menilai penggunaan water canon sudah cukup untuk mengurai massa tanpa harus menembakkan bahan lakrimator yang bisa berdampak pada masyarakat umum.

“Untuk mengurai massa cukup gunakan water canon, bukan gas air mata. Apalagi di sekitar lokasi masih ada masyarakat dan PKL. Ini perlu dievaluasi,” ujar Dika saat diwawancarai kabarterdepan.com, Kamis (6/11/2025).

Lebih lanjut, Dika menjelaskan bahwa dalam prosedur penanganan aksi, seharusnya aparat terlebih dahulu melakukan tahapan yang berurutan.

Menurutnya, pertama dilakukan peringatan, kedua adalah tindakan penekanan tanpa alat fisik, lalu selanjutnya penggunaan water canon, dan yang terakhir baru bahan lakrimator.

Prosedur Gas Air Mata

Namun Dika menyayangkan tindakan Polres yang mengarahkan gas air mata langsung ke massa. Dika mempertanyakan prosedur tersebut, karena seharusnya tembakan diarahkan ke atas, apalagi tembakan yang dilakukan jaraknya cukup dekat.

Dampak gas air mata juga dirasakan oleh beberapa anak yang saat itu sedang bermain PlayStation (PS) di sebuah warung di dekat area kejadian.

Berdasarkan keterangan warga, anak-anak tersebut sempat panik karena gas air mata tiba-tiba menyebar ke area tempat mereka bermain. Beruntung, seorang Babinsa TNI dengan sigap membantu mengevakuasi mereka ke tempat aman.

Selain itu, tiga wartawan termasuk wartawan kabarterdepan.com dan dua ibu-ibu PKL juga terkena imbas gas air mata, meski telah berada di koridor aman Polres.

Sementara itu, Hadi, salah satu warga Sampang, menyebut tindakan aparat saat itu terkesan “lebay”.

Hadi berharap aparat ke depan lebih mengedepankan cara persuasif agar masyarakat sekitar tidak ikut menjadi korban.

Pernyataan Kapolres Sampang

Sebelumnya Kapolres Sampang AKBP Hartono menegaskan bahwa pihak kepolisian telah menjalankan pengamanan sesuai prosedur.

Namun, karena situasi semakin tidak terkendali dan massa mulai melempari batu, aparat akhirnya terpaksa menembakkan gas air mata untuk memukul mundur massa. Pernyataan ini disampaikan AKBP Hartono saat diwawancarai awak media, Kamis lalu (30/10/2025).

Namun, ketika kabarterdepan.com mencoba melakukan konfirmasi ulang kepada Plh Kasi Humas Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, terkait sorotan dari pengamat hukum, pihaknya enggan memberikan keterangan lebih jauh.

“Terkait pertanyaan itu, saya belum bisa berkomentar. Akan saya coba tanyakan ke Kabag Ops,” ujar AKP Eko Puji Waluyo.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Polres Sampang belum memberikan keterangan resmi yang lebih jelas terkait peristiwa tersebut dan evaluasi atas dampak yang dirasakan masyarakat sekitar. (Fais)

Responsive Images

You cannot copy content of this page