3 Penyakit Ini Meningkat di Jawa Timur, Dinkes Imbau Warga Manfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis

Avatar of Jurnalis: Husni
Dinkes
Kepala Dinkes Jatim Erwin Astha Triyono saat ditemui di kantornya. (Husni Habib/Kabarterdepan.com)

Surabaya, Kabarterdepan.com  – Dinas Kesehatan Jawa Timur (Dinkes Jatim) mencatat tren peningkatan 3 penyakit utama di berbagai rumah sakit di Jatim. 3 penyakit tersebut tentu saja menjadi ancaman serius dan harus diwaspadai sebagai upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dr. Erwin Astha Triyono mengatakan ketiga penyakit tersebut adalah metabolic syndrome, penyakit keganasan (kanker), dan infeksi. Sebagai langkah pencegahan pihaknya kini menyiapkan langkah deteksi dini melalui program cek kesehatan gratis.

Ketiga penyakit tersebut tercatat mengalami peningkatan secara merata di berbagai rumah sakit di Jatim. Oleh sebab itu melalui program nasional Quick Win Presiden Prabowo Subianto, Dinkes Jatim saat ini mendorong masyarakat agar dapat melakukan pengecekan kesehatan gratis di layanan kesehatan terdekat seperti puskesmas.

“Tiga penyakit terbanyak itu ada metabolic syndrome, ada keganasan, ada infeksi. Hampir di semua rumah sakit trennya meningkat. Karena itu, kami titip Bapak-Ibu di kabupaten/kota untuk mendukung program cek kesehatan gratis agar kondisi masyarakat bisa terpantau sejak dini,” ujar Erwin, Kamis (6/11/2025).

Dirinya menambahkan selain ketiga penyakit tersebut, pihaknya juga berhasil menemukan berbagai kasus TBC di berbagai daerah. Seperti yang diketahui TBC merupakan salah satu fokus utama pemerintah dalam hal penanganan kesehatan masyarakat, dengan ditemukannya banyak kasus TBC berarti pemerintah telah berhasil melakukan deteksi dini di masyarakat.

“Ketemu lebih baik daripada tidak ketemu. Kalau ada kabupaten/kota yang temuan kasus TBC-nya meningkat, itu justru artinya kinerjanya baik. Karena kalau tidak ketemu, penularannya jauh lebih cepat,” tambahnya.

Dinkes Soroti Stunting

Dalam laporannya, Erwin juga menyoroti penanganan stunting, dengan mencontohkan keberhasilan Kota Surabaya dalam sistem notifikasi dan tindak lanjut kasus. Menurutnya, setiap temuan stunting harus segera diklasifikasi berdasarkan penyebab seperti Pola asuh tidak tepat, Akses pangan terbatas, atau Penyakit penyerta seperti TBC.

“Begitu ada stunting, langsung kita bagi tiga. Kalau karena pola asuh, kita damping. Kalau karena akses makanan, kita bantu lewat dinas sosial. Kalau karena penyakit seperti TBC, kita obati penyakit dasarnya,” pungkasnya.

Responsive Images

You cannot copy content of this page