
Surabaya, kabarterdepan.com– Kejadian perobekan bendera Belanda di Hotel Majapahit, Surabaya, menjadi momen yang membekas dalam sejarah perjuangan mempertahan kemerdekaan Indonesia.
Momen ini kembali dipertontonkan dalam Teatrikal Kolosal bertajuk “Surabaya Merah Putih” yang digelar pada Minggu (2109/2025).
Teatrikal kolosal ini diawali dengan Pembacaan Proklamasi Daerah Surabaya oleh Residen Soedirman yang diperankan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Adegan selanjutnya, Residen Soedirman bernegosiasi dengan Mr. Ploegman, seorang pengacara pro-Belanda yang mengibarkan bendera Belanda tanpa izin di Hotel Yamato, yang saat ini dikenal sebagai Hotel Majapahit.
Pengibaran bendera Belanda yang dilakukan secara sepihak ini sontak menyulut amarah arek-arek Suroboyo. Dan akhirnya menjadi pemicu terjadinya peristiwa Perobekan Bendera pada 19 September 1945, pasca proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Tujuan Digelar Teatrikal Kolosal
Eri Cahyadi mengatakan pertunjukan Teatrikal Kolosal ini digelar agar warga Surabaya tidak lupa dengan sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Apalagi Surabaya yang mendapat julukan Kota Pahlawan sudah sepatutnya menjadi contoh bagi daerah lain, bagaimana tetap menjaga sejarah agar tetap dikenang oleh generasi penerus bangsa.
“Ini menunjukkan, jangan pernah hilang sejarah bagaimana pengorbanan seluruh masyarakat Surabaya ketika naik ke atas Hotel Yamato, merobek bendera biru, menjadi merah putih,” kata Eri, Minggu (21/09/2025).
Eri juga berpesan kepada arek arek Suroboyo untuk tetap menjaga kota pahlawan dan jangan melupakan sejarah yang menjadi bagian dari kota Surabaya.
Kota Surabaya ada seperti sekarang tidak lepas dari perjuangan dan tumpah darah para pejuang yang mengorbankan nyawa mempertahankan kemerdekaan.
“Melalui acara ini, maka semangat Arek-arek Suroboyo terus berkobar, saling bergerak bersama untuk menjadikan Surabaya ini kota yang aman, nyaman, dan mensejahterakan warganya,” pungkasnya.
Tidak hanya sekedar menyajikan drama teatrikal kolosal, acara ini juga menampilkan skenografi ludrukan khas Surabaya lawasan yang dikolaborasikan ke dalam elemen teater, tari, puisi, musik keroncong, seni instalasi, hingga parade sepeda kuno turut mendukung suasana Surabaya di era 1945. (Husni Habib)
