
Yogyakarta, kabarterdepan.com- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta minta masyarakat waspadai terhadap pemicu kasus leptospirosis di tengah kasus yang meningkat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Yogyakarta Lana Unwanah menyampaikan hingga Juni 2025, total terdapat 19 kasus leptospirosis dengan 6 diantaranya meninggal dunia.
Adapun kasus tersebut beberapa di beberapa kemantren antara lain mantrijeron 1 kasus, Mergangsan 1 kasus, Gondokusuman 1 kasus, Kotagede 2 kasus, Umbulharjo 1 kasus, Pakualaman 2 kasus, Gedongtengen 2 kasus, Ngampilan 2 kasus, Wirobrajan 1 kasus, Jetis 3 kasus, dan Tegalrejo 3 kasus.
Ia menyampaikan penyebab dari penyakit ini ditularkan melalui bakteri leptospira dari hewan ke manusia, salah satunya melalui urin tikus.
“(Leptospirosis) hewan bakteri itu membutuhkan faktor untuk menular ke manusia, paling sering adalah tikus, ini banyak sekali,” katanya saat jumpa pers di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo San) Kota Yogyakarta, Kamis (10/7/2025).
Lana menyampaikan, musim hujan juga berpotensi meningkatkan kasus leptospirosis akibat genangan air dan juga tumpukan sampah yang menjadi lokasi yang disenangi tikus.
Selain faktor lingkungan, dirinya juga meminta masyarakat untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Disebutnya, kondisi luka yang ada pada kulit jika tidak memiliki pelindung akan menjadi pintu masuk bagi bakteri leptospira.
“Kita kadang kala tidak menyadari ada luka kecil yang tidak terlihat oleh mata saat beraktifitas di lingkungan yang becek. Misalkan ada genangan air, dimana kita tidak tahu apakah itu terbebas dari kontaminasi dari urin tikus atau tidak,” katanya.
Ia menyampaikan sarana penularan leptospirosis bisa berasal dari mana saja, termasuk di wilayah aktivitas yang tidak pernah terduga.
“19 kasus itu tidak berhubungan dengan wilayah (kotor), yang kerja di swalayan, ada yang punya hobi mancing, ada yang pelajar mungkin main PS (juga berpotensi),” katanya.
Oleh karena itu, bagi masyarakat yang terkenal lepto, dapat mengakses layanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala akibat kondisinya tidak spesifik. Pasalnya, beberapa kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta diakibatkan karena lambatnya penangan.
Ia memberikan saran kepada masyarakat yang beraktivitas di lokasi yang memiliki penularan tinggi seperti sawah, kebun, dan tempat sampah dengan menggunakan alat pelindung yang sesuai standar.
“Pekerja resiko tinggi dilindungi dengan sepatu boot, sarun tangan sesuai dengan standar,” katanya. (Hadid Husaini)
