
Sidoarjo, Kabarterdepan.com – Menteri Sosial (Mensos) RI, Saifullah Yusuf yang juga akrab disapa Gus Ipul memastikan penanganan 171 korban tragedi runtuhnya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, kini memasuki fase rehabilitasi menyeluruh.
Pemerintah menegaskan fokus penanganan tak lagi sebatas medis, melainkan juga perlindungan sosial, psikologis, dan keberlanjutan hidup para korban.
Gus Ipul menjelaskan bahwa setelah proses evakuasi dan tanggap darurat rampung, kini pemerintah beralih ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, yang melibatkan berbagai elemen — mulai dari kementerian terkait, tenaga medis, hingga pendamping sosial.
“Pendampingan mencakup medis, sosial, hingga psikologis. Tidak berhenti di rumah sakit, tetapi juga berlanjut saat korban kembali ke rumah. Tujuannya agar jaminan dan perlindungan bagi mereka tetap berkelanjutan,” ujar Gus Ipul, Jumat (10/10/2025).
Perhatian Penuh untuk Korban Luka Berat
Salah satu korban tragedi, Haikal, masih menjalani perawatan intensif di RSUD Sidoarjo setelah harus menjalani amputasi kaki akibat luka berat. Gus Ipul yang meninjau langsung kondisi Haikal memastikan bahwa penanganan medis dilakukan oleh tim profesional dengan fasilitas terbaik.
“Alhamdulillah, Haikal ditangani dengan baik. Kita semua mendoakan agar lekas pulih dan bisa kembali beraktivitas,” ucapnya.
171 Korban Dievakuasi, 67 Meninggal Dunia
Berdasarkan data sementara, terdapat 171 korban dalam tragedi tersebut. Dari jumlah itu, 104 orang dinyatakan selamat dan 67 meninggal dunia, belum termasuk body part yang masih dalam proses identifikasi.
Menurut Gus Ipul, pemerintah menerapkan tiga tahapan penanganan bencana, yakni evakuasi, tanggap darurat, dan rehabilitasi, dengan melibatkan lintas kementerian dan lembaga.
Pemerintah Siapkan Bantuan Medis dan Sosial
Berbagai bentuk dukungan nyata terus disalurkan oleh pemerintah. Mulai dari jaminan kesehatan, logistik, layanan pemulihan trauma, hingga alat bantu medis seperti kaki palsu dan kursi roda bagi korban berkebutuhan khusus.
Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan jaminan pendidikan bagi anak-anak terdampak agar tidak kehilangan masa depan mereka.
“Presiden mengarahkan agar pemerintah hadir sepenuhnya. Karena itu, kolaborasi pusat, provinsi, dan daerah terus diperkuat untuk menguatkan para korban,” tegas Gus Ipul.
Pemulihan Tak Sekadar Fisik
Gus Ipul menekankan, proses rehabilitasi pascabencana ini tidak hanya menyembuhkan luka fisik, tetapi juga membangun kembali kekuatan sosial dan psikologis masyarakat pesantren.
“Yang lebih penting adalah bagaimana korban dan keluarga bisa bangkit kembali dengan lebih kuat,” pungkasnya.
